JALURINFO.COM, MAKASSAR — Warga Blok 10 kembali menyuarakan keluhan terkait kondisi drainase lingkungan yang baru saja dilakukan pengerukan. Pasalnya, saluran air tersebut kini kembali mengalami pendangkalan setelah hujan deras dan banjir mengguyur kawasan itu dalam beberapa hari terakhir.

Menurut laporan warga, material sisa galian yang sebelumnya diletakkan di tepi saluran tidak segera diangkut. Akibatnya, saat hujan turun, tanah dan lumpur tersebut terbawa air dan jatuh kembali ke dalam got, sehingga mengurangi efektivitas pengerukan yang telah dilakukan.

“Baru saja dikeruk, tapi karena sisa galiannya tidak diangkut, akhirnya masuk lagi ke dalam drainase saat hujan deras. Sekarang terlihat dangkal kembali. Warga meminta agar pekerjaan drainase betul-betul diperhatikan,” ungkap Ketua RT 05 RW 11 Blok 10, Perumnas Antang, Makassar, Jamal Shihab, Selasa (3/3/2026).

Warga menilai pengerukan yang dilakukan sebelumnya sudah menjadi langkah yang tepat sebagai upaya mengantisipasi banjir.
Namun, mereka menyayangkan tidak adanya tindak lanjut berupa pengangkutan sisa material.

Kondisi ini dinilai membuat pekerjaan menjadi kurang maksimal dan berpotensi mempercepat terjadinya genangan air saat curah hujan tinggi.

Blok 10 yang berada di wilayah Kelurahan Manggala memang dikenal sebagai salah satu kawasan yang cukup rawan genangan ketika hujan turun dengan intensitas tinggi. Oleh karena itu, sistem drainase yang berfungsi optimal menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat setempat.

Warga berharap ke depan setiap kegiatan pengerukan dapat disertai dengan pengelolaan material galian yang lebih tertata. Mereka mengusulkan agar sisa tanah dan lumpur langsung diangkut menggunakan mobil truk, atau setidaknya dimasukkan ke dalam karung agar tidak mudah terbawa air hujan dan kembali masuk ke saluran.

Selain itu, warga juga meminta adanya pengawasan lebih ketat dari pihak terkait agar proses pengerjaan drainase benar-benar tuntas dan tidak setengah jalan. Menurut mereka, pengerukan tanpa pengangkutan material hanya akan menjadi pekerjaan yang sia-sia dan berulang.

“Kami bukan menolak pengerukan, justru sangat mendukung. Tapi tolong dikerjakan sampai selesai. Jangan sampai setelah hujan sedikit saja, got kembali dangkal dan air meluap,” tambahnya.

Kondisi drainase yang kembali tertutup lumpur ini dikhawatirkan akan memperparah potensi banjir, terlebih memasuki periode cuaca ekstrem yang diprediksi masih akan berlangsung. Masyarakat Blok 10 berharap ada respons cepat dari pemerintah setempat agar saluran air kembali berfungsi optimal dan lingkungan tetap aman dari ancaman genangan.

Ketua RW 11 Blok 10, Supriadi, angkat bicara terkait kondisi drainase di lingkungannya yang kembali mengalami pendangkalan usai dilakukan pengerukan beberapa waktu lalu. Ia menilai persoalan utama terletak pada sisa material galian yang tidak langsung diangkut dari lokasi.

“Ya, seharusnya diangkut memang itu sedimennya,” tegas Supriadi saat dimintai tanggapannya.

Menurutnya, pengerukan drainase merupakan langkah yang tepat sebagai upaya mengantisipasi genangan dan banjir, apalagi kawasan Blok 10 dikenal rawan terdampak saat hujan deras mengguyur. Namun, tanpa pengangkutan material secara menyeluruh, hasil pengerukan menjadi kurang maksimal.

Supriadi menjelaskan, saat hujan turun dengan intensitas tinggi, sisa galian yang berada di pinggir got berpotensi terbawa arus dan kembali masuk ke dalam saluran.
Kondisi ini membuat drainase kembali dangkal dalam waktu singkat, sehingga mengurangi daya tampung air.

Ia berharap ke depan setiap kegiatan normalisasi drainase dapat dilakukan secara tuntas, termasuk memastikan seluruh material sisa pengerukan diangkut menggunakan armada truk atau metode lain yang efektif. Dengan begitu, fungsi saluran air dapat benar-benar optimal dan tidak sekadar menjadi pekerjaan yang berulang.

“Kita tentu mendukung upaya perbaikan dan pengerukan. Tapi harus selesai sampai bersih, supaya manfaatnya benar-benar dirasakan warga,” ujarnya.

Warga RW 11 Blok 10 pun berharap ada perhatian dan evaluasi dari pihak terkait agar kejadian serupa tidak terulang. Mereka menginginkan sistem drainase yang terawat dengan baik sebagai bagian dari langkah pencegahan banjir, terutama di tengah cuaca yang kerap tidak menentu.

Dengan penanganan yang lebih terkoordinasi dan menyeluruh, masyarakat optimistis persoalan pendangkalan drainase dapat diatasi secara berkelanjutan, sehingga lingkungan tetap aman, nyaman, dan terbebas dari ancaman genangan air.

Menanggapi keluhan warga terkait kondisi drainase di Blok 10 yang kembali mengalami pendangkalan, Lurah Manggala, Sukri Abbas, memastikan bahwa penanganan lanjutan segera dilakukan.

Ia menyebutkan, saluran tersebut akan kembali masuk dalam jadwal pengerukan oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU).

“Ye, mau ji lagi masuk pengerukan dari PU,” ujar Sukri Abbas singkat saat dimintai tanggapan mengenai kondisi terkini drainase di wilayahnya.

Menurutnya, pihak kelurahan telah berkoordinasi dengan instansi terkait agar penanganan dilakukan secepatnya, terutama mengingat tingginya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir.

Upaya pemangku jabatan yang berkompeten mengerahkan alat berat untuk mengeruk drainase di Blok 10 mendapat apresiasi dari warga sebagai langkah awal yang baik dalam mengatasi banjir.

Pengerukan dinilai menunjukkan adanya perhatian serius terhadap persoalan genangan yang kerap terjadi saat hujan deras.

Namun demikian, warga menilai pengerukan semata belum menjadi solusi tuntas. Meski drainase telah dikeruk, aliran air masih tersumbat karena permasalahan utamanya terletak pada kerusakan saluran serta tanggul yang sebelumnya dirobohkan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Kondisi tersebut menyebabkan aliran air melimpas dan masuk ke kawasan permukiman Blok 10.

“Hal ini merupakan aspirasi bersama warga berdasarkan hasil musyawarah RW 11 dan RW 13 bersama seluruh RT di Blok 10,” ujar salah seorang tokoh masyarakat Blok 10, Arif Rahman.

Warga berharap pemerintah tidak hanya fokus pada pengerukan, tetapi juga segera melakukan perbaikan menyeluruh terhadap drainase yang rusak agar persoalan banjir dapat ditangani secara permanen.

Sebagaimana diketahui, drainase di kawasan Blok 10 menjadi salah satu titik yang rawan mengalami genangan saat hujan deras. Karena itu, normalisasi rutin dinilai penting untuk menjaga kelancaran aliran air dan meminimalkan risiko banjir.