Pemimpin Departemen Efisiensi (DOGE) Elon Musk resmi mengambil alih Kantor Manajemen Personalia (OPM) Amerika Serikat (AS) dan langsung melakukan perubahan drastis. Musk resmi mendapat tugas khusus dari Presiden AS Donald Trump untuk melakukan perombakan besar-besaran terhadap birokrasi pemerintah.

Salah satu langkah awal Musk adalah memecat sejumlah pegawai negeri sipil (PNS) serta membatasi akses mereka ke sistem komputer yang menyimpan data pribadi jutaan pegawai federal.

Keputusan ini sejalan dengan kebijakan Trump yang ingin merampingkan birokrasi dan mengurangi peran pegawai sipil dalam pemerintahan. Langkah Musk dianggap sebagai upaya untuk meningkatkan efisiensi dan keamanan data, meski menuai pro dan kontra di berbagai pihak.

CEO Tesla dan pemilik X Elon Musk diberi mandat oleh Trump untuk memangkas jumlah pegawai sipil yang kini mencapai 2,2 juta orang. Ia bergerak cepat dengan menempatkan orang-orang kepercayaannya di OPM.

Dua pejabat OPM yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa sejumlah pegawai senior kehilangan akses ke data penting di sistem OPM. Salah satu basis data utama yang terkena dampak adalah Enterprise Human Resources Integration, yang menyimpan informasi sensitif seperti tanggal lahir, nomor Jaminan Sosial, alamat rumah, tingkat gaji, dan masa kerja pegawai federal.

“Kami tidak tahu apa yang mereka lakukan dengan sistem komputer dan data ini. Ini sangat mengkhawatirkan karena tidak ada pengawasan. Ada implikasi besar terhadap keamanan siber dan risiko peretasan,” ujar salah satu pejabat OPM dikutip dari Reuters, Minggu (2/2).

Mereka yang terdampak masih bisa mengakses email dan fungsi dasar lainnya, tetapi tidak lagi memiliki wewenang atas data besar yang mencakup seluruh tenaga kerja federal. Hingga saat ini, Musk, OPM, perwakilan tim baru, dan Gedung Putih belum memberikan komentar resmi terkait langkah tersebut.

Memo Internal dan Perubahan di OPM

Sejumlah memo yang beredar di kalangan pegawai federal menunjukkan perubahan signifikan di OPM. Dalam memo yang berisi ajakan agar pegawai mempertimbangkan tawaran pengunduran diri, mereka bahkan disarankan untuk menggunakan uang kompensasi untuk berlibur ke destinasi impian.

Profesor di Ford School of Public Policy, University of Michigan Don Moynihan menilai langkah-langkah ini menunjukkan kurangnya pengawasan dari Kongres terhadap kebijakan OPM.

“Tindakan ini membuat siapa pun di luar lingkaran Musk di OPM sulit mengetahui apa yang sedang terjadi,” ujarnya.

Dominasi Tim Musk di OPM

Sejak hari pertama pemerintahan Trump, sekelompok mantan dan pegawai aktif perusahaan Musk mulai mengendalikan OPM. Salah satu pegawai OPM menyatakan bahwa tim tersebut bahkan membawa sofa tempat tidur ke kantor di lantai lima, yang merupakan area kantor direktur dan hanya bisa diakses dengan izin keamanan.

“Mereka bekerja sepanjang waktu. Ini terasa seperti pengambilalihan yang bermusuhan,” ujar seorang pegawai.

Salah satu perubahan mencolok adalah pemindahan Katie Malague, Kepala Manajemen OPM, ke kantor lain di lantai yang berbeda. Malague belum memberikan komentar terkait pemindahannya.

Selain itu, tindakan serupa terjadi di Departemen Keuangan AS. Menurut laporan The Washington Post, pejabat karier tertinggi di departemen tersebut, David Lebryk, dipaksa mundur setelah berselisih dengan tim Musk yang meminta akses ke sistem pembayaran pemerintah.

Siapa Saja Tim Musk di OPM?

Di antara tokoh kunci yang kini mengendalikan OPM adalah Brian Bjelde, mantan insinyur avionik SpaceX yang kini menjadi penasihat senior di OPM.

Selain itu, ada Amanda Scales, mantan pegawai Musk yang kini menjabat sebagai Kepala Staf OPM, serta Riccardo Biasini, mantan insinyur Tesla dan direktur di The Boring Company.

Tindakan tim Musk juga mencakup instruksi agar setiap kepala lembaga federal mengidentifikasi pegawai yang masih dalam masa percobaan. Instruksi tersebut mengarahkan para pejabat untuk menghubungi Amanda Scales melalui email resminya di OPM.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala OPM, Charles Ezell, terus mengeluarkan memo kepada seluruh pegawai pemerintah, termasuk tawaran pengunduran diri dengan kompensasi gaji delapan bulan.

Namun, banyak pegawai OPM mengaku tidak mengetahui keberadaan memo-memo ini hingga mereka dirilis ke publik. “Kami mengetahuinya bersamaan dengan dunia luar. Tidak ada transparansi di sini,” ujar salah satu pejabat OPM yang terdampak.

Situasi ini mempertegas pengaruh besar Musk dalam pemerintahan Trump dan menimbulkan kekhawatiran akan arah kebijakan birokrasi federal di masa mendatang. (Berita ini telah tayang di katadata.co)

@jalurinfotv

Stiker Miskin Bikin Mundur dari Bansos

♬ original sound - JALURINFO TV
@jalurinfotv

Breaking News Penangkapan Pelaku Penembakan di Dekat Gedung Putih

♬ original sound - JALURINFO TV
@jalurinfotv

“Bandara IMIP Bikin Heboh, Milik Siapa Sebenarnya” Bandara yang berada di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah ini selama ini dikaitkan dengan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), salah satu pengelola kawasan industri nikel terbesar di Indonesia. Lalu, siapa sebenarnya pemilik Bandara IMIP? “Merujuk pada pemberitaan di berbagai media nasional, pengamat ITB Mohamad Abdul Kadir Martoprawiro memaparkan bahwa Bandara IMIP merupakan private airport atau bandara privat khusus yang dimiliki dan dioperasikan oleh PT IMIP. Bandara ini dibangun untuk keperluan logistik internal kawasan industri, mulai dari mobilisasi tenaga kerja, transportasi manajemen, hingga pengangkutan material industri.

♬ original sound - JALURINFO TV
@jalurinfotv

Polemik Bandara Morowali TNI Dikerahkan, IMIP Bantah ‘Tanpa Negara’ Markas Besar TNI mengerahkan Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat) untuk mengamankan bandara di Morowali, Sulawesi Tengah, setelah Menhan Sjafrie Sjamsoeddin menyoroti adanya bandara yang disebut tidak memiliki perangkat negara. TNI menegaskan dukungannya terhadap pemerintah untuk memastikan seluruh fasilitas strategis berada dalam kendali negara, serta meningkatkan koordinasi dengan Kemenhub, Kemhan, Polri, dan Pemda terkait perizinan, pengawasan, dan keamanan fasilitas udara. Sementara itu, PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menepis isu tersebut dengan menyatakan bahwa Bandara IMIP resmi terdaftar di Kemenhub dan diawasi Otoritas Bandara Wilayah V Makassar. IMIP menegaskan bahwa semua operasional bandara berjalan sesuai regulasi. Polemik ini mencuat setelah Menhan Sjafrie meninjau bandara di kawasan pertambangan Morowali dalam rangka Latihan Terintegrasi 2025. Ia menyebut keberadaan bandara tanpa kehadiran negara sebagai anomali yang berpotensi mengancam kedaulatan ekonomi, terlebih karena lokasinya dekat jalur laut strategis ALKI II dan III. Menhan menegaskan perlunya deregulasi dan penguatan pertahanan di titik-titik strategis, serta komitmen negara memberantas aktivitas ilegal yang merugikan kekayaan nasional. Ia menutup dengan menegaskan bahwa “Republik ini tidak boleh ada republik di dalam republik.”

♬ original sound - JALURINFO TV
@jalurinfotv

Rusia Tutup ‘Kuali Mirnograd’, Ribuan Tentara Ukraina Terjebak Situasi di front timur Ukraina kembali memanas setelah pasukan Rusia menutup rapat “Kuali Mirnograd” yang menjebak ribuan tentara Ukraina dan sejumlah tentara bayaran asing. Sumber-sumber Ukraina turut mengonfirmasi kondisi ini, menyebut lebih dari 2.000 personel kini terperangkap tanpa jalur keluar. Rusia dikabarkan telah meminta seluruh pasukan Ukraina yang terkepung untuk meletakkan senjata dan menyerah. Di sektor lain, kemajuan signifikan juga dilaporkan. Divisi ke-20 Rusia terus bergerak di sepanjang jalan raya utara Yablonovka menuju Berestka, lokasi pertahanan kuat Ukraina. Sementara itu, Brigade ke-4 dan Resimen ke-78 berhasil membebaskan Ivanopolye dan memperluas garis depan dari Aleksandro-Shultino-Ivanopolye hingga mendekati wilayah tenggara Konstantinovka, yang sebelumnya hanya dijangkau oleh unit sabotase Rusia. Pergerakan Rusia juga terlihat di arah Gulyaypole, dengan total wilayah 12,9 km² yang diklaim telah direbut dalam beberapa hari terakhir. Di tengah eskalasi pertempuran, muncul perkembangan terkait rencana damai yang diinisiasi Donald Trump. Moskow melalui Ushakov menegaskan beberapa poin penting: rencana perdamaian AS tidak dibahas di Abu Dhabi, belum didiskusikan dengan pihak mana pun, dan belum diterima secara resmi oleh Rusia. Moskow juga menilai pihak Eropa "terlalu mencampuri" proses perdamaian Ukraina, yang menurut Rusia justru menghambat solusi nyata.

♬ original sound - JALURINFO TV