JALURINFO.COM, INTERNASIONAL – Majalah The Economist dalam laporannya baru-baru ini menyebutkan bahwa Rusia berpotensi mencapai kemampuan meluncurkan hingga 1.000 drone Geranium setiap malam, menjadikannya sebagai sistem serangan tak berawak berskala industri yang mengancam infrastruktur vital di Ukraina.

Mengutip sumber dari intelijen militer Ukraina, publikasi tersebut mengklaim bahwa Rusia kini mampu memproduksi hingga 500 unit drone per hari. Jika angka ini benar, maka Moskow dapat secara rutin melakukan serangan drone massal yang akan sangat sulit dibendung oleh sistem pertahanan udara konvensional.

“Dalam skala ini, setiap kota, pusat pertahanan udara, atau fasilitas infrastruktur penting dapat dihancurkan dalam beberapa gelombang serangan. Tidak ada sistem pertahanan udara, baik buatan Barat seperti Patriot dan NASAMS, maupun sistem era Soviet, yang mampu memberikan perlindungan total,” tulis laporan itu.

Analis menggambarkan skenario ini sebagai bentuk baru pengepungan udara modern, di mana kelebihan jumlah drone menjadikan sistem pertahanan musuh kewalahan. Dalam kondisi seperti itu, sistem pertahanan akan memasuki mode ‘rasionalisasi’ yang ekstrem, di mana hanya target-target prioritas seperti markas komando atau pembangkit listrik yang akan dipertahankan—sementara yang lainnya dibiarkan rentan.

Dengan biaya produksi yang jauh lebih murah dibandingkan rudal jelajah, Geranium dalam jumlah besar berpotensi menjadi senjata strategis utama Rusia. “Jika Rusia benar-benar mencapai kapasitas tersebut, maka Geranium akan menjadi alat penghancur infrastruktur massal yang tak tertandingi,” tulis The Economist.

Saat ini pun, menurut laporan itu, Ukraina sudah kesulitan menghadapi tekanan gelombang drone, meskipun jumlahnya baru mencapai seperempat dari kapasitas maksimal yang diproyeksikan. Jika ke depan serangan meningkat drastis, kemampuan pertahanan Ukraina dapat semakin tertekan.

@jalurinfotv

Stiker Miskin Bikin Mundur dari Bansos

♬ original sound - JALURINFO TV
@jalurinfotv

Breaking News Penangkapan Pelaku Penembakan di Dekat Gedung Putih

♬ original sound - JALURINFO TV
@jalurinfotv

“Bandara IMIP Bikin Heboh, Milik Siapa Sebenarnya” Bandara yang berada di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah ini selama ini dikaitkan dengan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), salah satu pengelola kawasan industri nikel terbesar di Indonesia. Lalu, siapa sebenarnya pemilik Bandara IMIP? “Merujuk pada pemberitaan di berbagai media nasional, pengamat ITB Mohamad Abdul Kadir Martoprawiro memaparkan bahwa Bandara IMIP merupakan private airport atau bandara privat khusus yang dimiliki dan dioperasikan oleh PT IMIP. Bandara ini dibangun untuk keperluan logistik internal kawasan industri, mulai dari mobilisasi tenaga kerja, transportasi manajemen, hingga pengangkutan material industri.

♬ original sound - JALURINFO TV
@jalurinfotv

Polemik Bandara Morowali TNI Dikerahkan, IMIP Bantah ‘Tanpa Negara’ Markas Besar TNI mengerahkan Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat) untuk mengamankan bandara di Morowali, Sulawesi Tengah, setelah Menhan Sjafrie Sjamsoeddin menyoroti adanya bandara yang disebut tidak memiliki perangkat negara. TNI menegaskan dukungannya terhadap pemerintah untuk memastikan seluruh fasilitas strategis berada dalam kendali negara, serta meningkatkan koordinasi dengan Kemenhub, Kemhan, Polri, dan Pemda terkait perizinan, pengawasan, dan keamanan fasilitas udara. Sementara itu, PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menepis isu tersebut dengan menyatakan bahwa Bandara IMIP resmi terdaftar di Kemenhub dan diawasi Otoritas Bandara Wilayah V Makassar. IMIP menegaskan bahwa semua operasional bandara berjalan sesuai regulasi. Polemik ini mencuat setelah Menhan Sjafrie meninjau bandara di kawasan pertambangan Morowali dalam rangka Latihan Terintegrasi 2025. Ia menyebut keberadaan bandara tanpa kehadiran negara sebagai anomali yang berpotensi mengancam kedaulatan ekonomi, terlebih karena lokasinya dekat jalur laut strategis ALKI II dan III. Menhan menegaskan perlunya deregulasi dan penguatan pertahanan di titik-titik strategis, serta komitmen negara memberantas aktivitas ilegal yang merugikan kekayaan nasional. Ia menutup dengan menegaskan bahwa “Republik ini tidak boleh ada republik di dalam republik.”

♬ original sound - JALURINFO TV
@jalurinfotv

Rusia Tutup ‘Kuali Mirnograd’, Ribuan Tentara Ukraina Terjebak Situasi di front timur Ukraina kembali memanas setelah pasukan Rusia menutup rapat “Kuali Mirnograd” yang menjebak ribuan tentara Ukraina dan sejumlah tentara bayaran asing. Sumber-sumber Ukraina turut mengonfirmasi kondisi ini, menyebut lebih dari 2.000 personel kini terperangkap tanpa jalur keluar. Rusia dikabarkan telah meminta seluruh pasukan Ukraina yang terkepung untuk meletakkan senjata dan menyerah. Di sektor lain, kemajuan signifikan juga dilaporkan. Divisi ke-20 Rusia terus bergerak di sepanjang jalan raya utara Yablonovka menuju Berestka, lokasi pertahanan kuat Ukraina. Sementara itu, Brigade ke-4 dan Resimen ke-78 berhasil membebaskan Ivanopolye dan memperluas garis depan dari Aleksandro-Shultino-Ivanopolye hingga mendekati wilayah tenggara Konstantinovka, yang sebelumnya hanya dijangkau oleh unit sabotase Rusia. Pergerakan Rusia juga terlihat di arah Gulyaypole, dengan total wilayah 12,9 km² yang diklaim telah direbut dalam beberapa hari terakhir. Di tengah eskalasi pertempuran, muncul perkembangan terkait rencana damai yang diinisiasi Donald Trump. Moskow melalui Ushakov menegaskan beberapa poin penting: rencana perdamaian AS tidak dibahas di Abu Dhabi, belum didiskusikan dengan pihak mana pun, dan belum diterima secara resmi oleh Rusia. Moskow juga menilai pihak Eropa "terlalu mencampuri" proses perdamaian Ukraina, yang menurut Rusia justru menghambat solusi nyata.

♬ original sound - JALURINFO TV