JALURINFO.COM, MAKASSAR — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin menekankan pentingnya kolaborasi seluruh elemen dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana, terutama di tengah kondisi cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi.
Hal tersebut disampaikan Munafri saat memberikan sambutan pada kegiatan Simulasi Bencana Dasar yang dilaksanakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Makassar bersama Komunitas Kemakmuran Utara Makassar di Jalan Teuku Umar, Sabtu (7/3/2026).
Menurut Munafri, upaya mitigasi bencana tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Peran masyarakat, komunitas, dan sektor swasta sangat diperlukan untuk memperkuat kesiapsiagaan bersama.
“Kolaborasi seluruh elemen sangat dibutuhkan. Pemerintah, swasta, masyarakat, dan komunitas harus bersinergi, terutama saat menghadapi cuaca ekstrem atau bencana musiman agar dampaknya bisa diminimalkan,” imbuh Appi.
Ia menelankan, langkah antisipasi harus dilakukan secara terencana dan berkelanjutan. Pemerintah kota, kata dia, terus mendorong penguatan sistem peringatan dini, pemeliharaan peralatan evakuasi, simulasi tanggap darurat secara rutin, hingga penyediaan logistik kebencanaan.
Selain itu, koordinasi lintas sektor juga menjadi kunci utama agar penanganan bencana dapat berjalan efektif.
Munafri menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana harus dimiliki oleh seluruh masyarakat karena bencana dapat terjadi kapan saja tanpa melihat waktu.
“Bencana tidak pernah memilih waktu, bisa saja terjadi saat kita sedang berpuasa, saat malam hari, bahkan saat masyarakat sedang beraktivitas seperti biasa. Karena itu dibutuhkan antisipasi yang baik,” jelasnya, mengingatkan.
Pria yang akrab disapa Appi itu menambahkan, simulasi seperti yang dilakukan BPBD Makassar menjadi sarana penting untuk melatih masyarakat mengenali kondisi lingkungan di wilayah masing-masing serta memahami langkah-langkah yang harus dilakukan ketika terjadi bencana.
Menurutnya, bencana tidak selalu berupa gempa bumi atau angin puting beliung. Banyak potensi bencana yang sebenarnya dapat diminimalkan melalui upaya mitigasi sederhana di lingkungan masyarakat.
“Bencana juga bisa dicegah dengan memperhatikan hal-hal kecil, seperti saluran air yang tersumbat yang dapat memicu banjir, atau kondisi rumah warga yang berada di jalur evakuasi yang tidak sesuai standar keselamatan,” katanya.
Ia berharap masyarakat yang mengikuti kegiatan tersebut dapat memahami protokol kebencanaan sehingga tidak panik ketika terjadi situasi darurat.
Ketika terjadi sesuatu, masyarakat sudah tahu apa yang harus dilakukan, siapa yang harus didahulukan, dan bagaimana cara bersama-sama menolong warga di sekitarnya.
Appi menilai kegiatan simulasi tersebut sangat positif karena tidak hanya memberikan edukasi mengenai kebencanaan, tetapi juga mempererat kebersamaan masyarakat, terutama di bulan Ramadan.
Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan berbagai aktivitas sosial seperti pasar murah bagi masyarakat serta buka puasa bersama.
“Saya mengapresiasi teman-teman BPBD dan seluruh komunitas yang telah menyelenggarakan kegiatan ini. Kegiatan ini tidak hanya memberikan sosialisasi kebencanaan, tetapi juga menghadirkan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat,” tuturnya.
Munafri juga berharap kegiatan serupa dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Kota Makassar untuk terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi berbagai potensi bencana.
Ia menegaskan kanekankan, edukasi kebencanaan harus terus disebarluaskan kepada masyarakat luas agar semakin banyak warga yang memahami prosedur keselamatan.
Pengalaman yang didapatkan di sini diharapkan bisa disampaikan kembali kepada masyarakat di lingkungan masing-masing, sehingga semua warga memiliki pemahaman yang sama tentang protokol kebencanaan.
Ia mencontohkan beberapa kejadian yang kerap terjadi di Makassar, seperti banjir, genagan, pohon tumbang, yang menjadi langganan di sejumlah wilayah, termasuk di kawasan Paccerakkang KECAMATAN Biringkanaya dan blok 8 dan 10 Kecamatan Manggala.
Dalam kondisi seperti itu, masyarakat harus memahami prosedur keselamatan, termasuk mengantisipasi potensi bahaya seperti aliran listrik yang terendam air maupun kapan harus melakukan evakuasi.
“Kalau air sudah mencapai ketinggian tertentu atau kondisi sudah berbahaya, maka masyarakat harus tahu kapan harus meninggalkan rumah dan mengungsi demi keselamatan,” saran Appi.
Di akhir sambutannya, Munafri kembali menegaskan bahwa keselamatan diri dan keluarga harus menjadi prioritas utama dalam menghadapi potensi bencana.
Lewat simulasi BPBD Makassar dan seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk sinergi antara pemerintah dan masyarakat.
“Ini adalah contoh sinergi antara pemerintah dan masyarakat untuk mendukung program-program yang tujuannya tidak lain adalah untuk kepentingan masyarakat itu sendiri,” pungkasnya.
Sedangkan, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Makassar, Muhammad Fadli Tahar mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana, di kota Makassar.
Menurutnya, program ini melibatkan pihak Kecamatan dari berbagai wilayah yang dibagi ke dalam tiga kelompok kawasan kemakmuran di Kota Makassar.
“Program ini terbagi menjadi tiga wilayah. Pertama Kemakmuran Utara Makassar yang mencakup lima kecamatan, kedua Kemakmuran Selatan Makassar dengan empat kecamatan,” ujarnya.
“Dan ketiga Kemakmuran Timur Makassar yang juga meliputi empat kecamatan,” sambung Fadli.
Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan tidak hanya berupa simulasi kebencanaan, tetapi juga diisi dengan kegiatan sosial seperti buka puasa bersama serta pasar murah bagi masyarakat.
Selain itu, dalam program tersebut juga dibentuk Kelurahan Tangguh Bencana yang melibatkan sekitar 20 orang relawan dari setiap kelurahan.
Relawan tersebut akan dibina dan dibekali pengetahuan kebencanaan oleh BPBD sehingga mampu melakukan penanganan awal ketika terjadi bencana di wilayah masing-masing.
“Setiap kelurahan ada sekitar 20 orang yang akan kita bina dan bekali pengetahuan kebencanaan. Jadi ketika ada kejadian di wilayahnya, mereka bisa langsung turun melakukan penanganan awal,” jelasnya.
Para relawan itu juga akan dibagi dalam kelompok-kelompok kerja agar lebih terorganisasi dalam menjalankan tugas, termasuk menangani persoalan-persoalan dasar seperti saluran air yang tersumbat hingga penanganan awal bencana lainnya.
Fadli menambahkan, sebagian besar relawan yang terlibat berasal dari berbagai komunitas masyarakat, seperti komunitas penjahit, pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM), hingga komunitas perikanan.
Dengan latar belakang tersebut, diharapkan para relawan tidak hanya aktif dalam penanggulangan bencana, tetapi juga mampu mengembangkan kegiatan ekonomi masyarakat secara mandiri.
“Mereka rata-rata sudah punya komunitas, ada komunitas penjahit, UKM, hingga perikanan. Jadi sebenarnya mereka sudah bisa berjalan mandiri,” tuturnya.
“Kami hanya membantu dalam pembinaan, termasuk cara membuat proposal dan mengakses bantuan,” tambah Fadli.
Dia menambahkan, beberapa kelompok masyarakat yang telah dibina sebelumnya bahkan sudah berhasil mendapatkan bantuan pemerintah maupun dukungan dari pihak luar Makassar untuk mengembangkan kegiatan mereka.
“Program ini, kami harapkan dapat memperkuat peran masyarakat sebagai garda terdepan dalam menghadapi dan menanggulangi potensi bencana di lingkungan masing-masing,” tutup Fadli. (*)
