وَلَا تُؤۡتُوا السُّفَهَآءَ اَمۡوَالَـكُمُ الَّتِىۡ جَعَلَ اللّٰهُ لَـكُمۡ قِيٰمًا وَّارۡزُقُوۡهُمۡ فِيۡهَا وَاكۡسُوۡهُمۡ وَقُوۡلُوۡا لَهُمۡ قَوۡلًا مَّعۡرُوۡفًا‏ ٥

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai penopang kehidupanmu. Berilah mereka belanja dan pakaian dari hasil harta itu, serta ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.”
(QS. An-Nisa: 5)

Banyak orang mengira ukuran kekayaan adalah banyaknya harta yang dimiliki.

Namun Al-Qur’an mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam.

Allah berfirman:

“…harta yang Allah jadikan sebagai penopang kehidupanmu.”

Allah tidak menyebut harta sebagai lambang kemewahan.

Allah menyebutnya sebagai penopang kehidupan.

Artinya, harta bukan tujuan hidup.

Harta adalah sarana agar kehidupan tetap tegak.

Karena itu Islam sangat menjaga agar harta tidak jatuh ke tangan orang yang belum mampu mengelolanya.

Bukan karena mereka tidak berharga.

Tetapi karena amanah yang besar memerlukan kedewasaan yang besar pula.

Menariknya, Allah tidak berhenti pada larangan menyerahkan harta.

Allah langsung memerintahkan:

“Berilah mereka makan, pakaian, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.”

Inilah indahnya syariat Islam.

Meskipun seseorang belum mampu mengelola hartanya sendiri, ia tetap harus diperlakukan dengan penuh penghormatan.

Hak-haknya dipenuhi.

Kebutuhannya dicukupi.

Perasaannya dijaga.

Lisannya dimuliakan.

Islam tidak hanya mengatur bagaimana menjaga harta.

Islam juga mengatur bagaimana menjaga hati manusia.

Sering kali kita pandai melindungi uang, tetapi lalai menjaga perasaan.

Padahal ayat ini memerintahkan keduanya sekaligus.

Harta dijaga.

Manusia juga dijaga.

Ayat ini juga mengajarkan bahwa kecakapan mengelola harta adalah sebuah amanah.

Tidak semua orang yang memiliki harta siap mengelolanya.

Sebaliknya, ada orang yang hartanya sedikit tetapi sangat bijaksana dalam menggunakannya.

Karena itu, ukuran kedewasaan bukanlah usia, melainkan kemampuan memikul amanah.

Semakin besar amanah yang Allah titipkan, semakin besar pula tanggung jawab untuk mengelolanya dengan ilmu, kejujuran, dan kasih sayang.

Semoga Allah menjadikan kita penjaga amanah yang baik, tidak tergoda oleh harta yang berada di tangan kita, mampu mengelolanya dengan penuh tanggung jawab, serta tetap memuliakan setiap orang dengan perkataan yang baik.

“Harta dapat menopang kehidupan, tetapi akhlaklah yang menentukan ke mana kehidupan itu akan diarahkan. Ketika amanah dijaga dan lisan dipelihara, harta menjadi jalan menuju keberkahan, bukan sumber kerusakan.”