JALURINFO.COM,- Sering kali kita terjebak dalam kebiasaan untuk segera menilai sesuatu yang kita temui—menghakimi atau bahkan mengagumi. Saat seseorang atau sesuatu tidak sesuai dengan harapan, kita tergoda untuk berkata, “Ini tidak baik,” atau sebaliknya, saat menemukan sesuatu yang memukau, kita mengelu-elukannya tanpa sadar. Namun, bagaimana jika kita belajar untuk tidak langsung menilai, tetapi hanya menjadi saksi?

Menjadi saksi adalah sebuah seni yang menuntut kedewasaan emosional dan keheningan batin. Dalam posisi ini, kita tidak menolak atau menganggap sesuatu sebagai salah. Sebaliknya, kita hanya mengamati, melihat segala sesuatu sebagaimana adanya tanpa melebih-lebihkan atau merendahkan. Pengamatan tanpa keterikatan ini memberikan perspektif yang lebih jernih tentang realitas, karena kita tidak lagi terpengaruh oleh emosi atau bias pribadi.

Saat kita berkata, “Ini tidak baik,” kita sebenarnya sudah menciptakan jarak antara diri kita dengan pengalaman tersebut. Kita mulai menekan, berusaha untuk mengubah atau menyingkirkan sesuatu yang sebenarnya hanya butuh diterima dan dilihat dengan netral. Sebaliknya, saat kita mampu untuk tidak menilai, kita membiarkan diri kita mengalir dengan alur kehidupan, tanpa beban prasangka yang membatasi pandangan kita.

Dengan menjadi pengamat, kita berlatih untuk tidak terlibat secara emosional dalam situasi, baik dalam hal yang menyenangkan maupun yang tidak. Kita hanya melihat, tanpa menempel pada keinginan atau ketidakpuasan. Sikap ini bukan berarti kita acuh atau tidak peduli, melainkan kita menjadi lebih bijak dalam merespon kehidupan, tanpa tergesa-gesa menyematkan label “baik” atau “buruk.”

Kehidupan memiliki caranya sendiri untuk berkembang, dan kita, sebagai manusia, hanyalah saksi yang diberikan hak istimewa untuk mengamatinya. Dengan tidak menghakimi atau mengagumi, kita membebaskan diri dari keterikatan emosional yang sering membelenggu kita. Maka, mulai sekarang, cobalah untuk hanya melihat, tanpa perlu menolak atau memuja. Dalam ketenangan pengamatan, kita menemukan kebijaksanaan dan kedamaian sejati.

@jalurinfotv

Stiker Miskin Bikin Mundur dari Bansos

♬ original sound - JALURINFO TV
@jalurinfotv

Breaking News Penangkapan Pelaku Penembakan di Dekat Gedung Putih

♬ original sound - JALURINFO TV
@jalurinfotv

“Bandara IMIP Bikin Heboh, Milik Siapa Sebenarnya” Bandara yang berada di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah ini selama ini dikaitkan dengan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), salah satu pengelola kawasan industri nikel terbesar di Indonesia. Lalu, siapa sebenarnya pemilik Bandara IMIP? “Merujuk pada pemberitaan di berbagai media nasional, pengamat ITB Mohamad Abdul Kadir Martoprawiro memaparkan bahwa Bandara IMIP merupakan private airport atau bandara privat khusus yang dimiliki dan dioperasikan oleh PT IMIP. Bandara ini dibangun untuk keperluan logistik internal kawasan industri, mulai dari mobilisasi tenaga kerja, transportasi manajemen, hingga pengangkutan material industri.

♬ original sound - JALURINFO TV
@jalurinfotv

Polemik Bandara Morowali TNI Dikerahkan, IMIP Bantah ‘Tanpa Negara’ Markas Besar TNI mengerahkan Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat) untuk mengamankan bandara di Morowali, Sulawesi Tengah, setelah Menhan Sjafrie Sjamsoeddin menyoroti adanya bandara yang disebut tidak memiliki perangkat negara. TNI menegaskan dukungannya terhadap pemerintah untuk memastikan seluruh fasilitas strategis berada dalam kendali negara, serta meningkatkan koordinasi dengan Kemenhub, Kemhan, Polri, dan Pemda terkait perizinan, pengawasan, dan keamanan fasilitas udara. Sementara itu, PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menepis isu tersebut dengan menyatakan bahwa Bandara IMIP resmi terdaftar di Kemenhub dan diawasi Otoritas Bandara Wilayah V Makassar. IMIP menegaskan bahwa semua operasional bandara berjalan sesuai regulasi. Polemik ini mencuat setelah Menhan Sjafrie meninjau bandara di kawasan pertambangan Morowali dalam rangka Latihan Terintegrasi 2025. Ia menyebut keberadaan bandara tanpa kehadiran negara sebagai anomali yang berpotensi mengancam kedaulatan ekonomi, terlebih karena lokasinya dekat jalur laut strategis ALKI II dan III. Menhan menegaskan perlunya deregulasi dan penguatan pertahanan di titik-titik strategis, serta komitmen negara memberantas aktivitas ilegal yang merugikan kekayaan nasional. Ia menutup dengan menegaskan bahwa “Republik ini tidak boleh ada republik di dalam republik.”

♬ original sound - JALURINFO TV
@jalurinfotv

Rusia Tutup ‘Kuali Mirnograd’, Ribuan Tentara Ukraina Terjebak Situasi di front timur Ukraina kembali memanas setelah pasukan Rusia menutup rapat “Kuali Mirnograd” yang menjebak ribuan tentara Ukraina dan sejumlah tentara bayaran asing. Sumber-sumber Ukraina turut mengonfirmasi kondisi ini, menyebut lebih dari 2.000 personel kini terperangkap tanpa jalur keluar. Rusia dikabarkan telah meminta seluruh pasukan Ukraina yang terkepung untuk meletakkan senjata dan menyerah. Di sektor lain, kemajuan signifikan juga dilaporkan. Divisi ke-20 Rusia terus bergerak di sepanjang jalan raya utara Yablonovka menuju Berestka, lokasi pertahanan kuat Ukraina. Sementara itu, Brigade ke-4 dan Resimen ke-78 berhasil membebaskan Ivanopolye dan memperluas garis depan dari Aleksandro-Shultino-Ivanopolye hingga mendekati wilayah tenggara Konstantinovka, yang sebelumnya hanya dijangkau oleh unit sabotase Rusia. Pergerakan Rusia juga terlihat di arah Gulyaypole, dengan total wilayah 12,9 km² yang diklaim telah direbut dalam beberapa hari terakhir. Di tengah eskalasi pertempuran, muncul perkembangan terkait rencana damai yang diinisiasi Donald Trump. Moskow melalui Ushakov menegaskan beberapa poin penting: rencana perdamaian AS tidak dibahas di Abu Dhabi, belum didiskusikan dengan pihak mana pun, dan belum diterima secara resmi oleh Rusia. Moskow juga menilai pihak Eropa "terlalu mencampuri" proses perdamaian Ukraina, yang menurut Rusia justru menghambat solusi nyata.

♬ original sound - JALURINFO TV