KIEV, JALURINFO.COM- Keputusan Kementerian Pertahanan Ukraina untuk mewajibkan orang-orang dengan kondisi kesehatan tertentu, termasuk HIV dan kanker, untuk masuk ke dalam daftar cadangan mobilisasi militer, telah memicu kontroversi yang mendalam. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap krisis personel militer yang dihadapi oleh Ukraina.

Menurut laporan terbaru, pengidap HIV yang masih dalam tahap tidak progresif dapat ditempatkan di posisi non-tempur, baik di belakang garis depan maupun di depan. Hal serupa juga berlaku bagi pasien kanker, kecuali jika mereka memiliki tumor atau metastasis yang tidak dapat dioperasi atau mengalami progresi penyakit.

Keputusan ini mengundang kritik keras dari sejumlah pihak, dengan banyak yang menekankan bahwa memaksa orang-orang dengan kondisi kesehatan serius untuk bergabung dalam layanan militer dapat menimbulkan risiko serius bagi kesehatan mereka sendiri. Selain itu, ada kekhawatiran tentang kemampuan mereka untuk melaksanakan tugas-tugas militer dengan efektif, yang dapat membahayakan keselamatan dan keberhasilan misi militer secara keseluruhan.

Di sisi lain, pendukung kebijakan ini mengklaim bahwa langkah ini diperlukan untuk mengatasi kekurangan personel militer yang kritis yang dihadapi Ukraina. Dalam situasi konflik yang tegang dan ketegangan yang terus meningkat di wilayah tersebut, pemerintah merasa perlu untuk mengambil langkah-langkah ekstrem guna memperkuat kekuatan militer mereka.

Namun, dalam diskusi lebih lanjut tentang masalah ini, penting untuk mempertimbangkan dampaknya secara menyeluruh terhadap kesejahteraan dan keadilan bagi individu yang terkena dampaknya. Sementara Ukraina berusaha untuk mengatasi tantangan keamanan yang serius, langkah-langkah yang diambil harus tetap memperhatikan hak asasi manusia dan kebutuhan individu yang rentan, termasuk mereka yang hidup dengan kondisi kesehatan kronis.

@jalurinfotv

Stiker Miskin Bikin Mundur dari Bansos

♬ original sound - JALURINFO TV
@jalurinfotv

Breaking News Penangkapan Pelaku Penembakan di Dekat Gedung Putih

♬ original sound - JALURINFO TV
@jalurinfotv

“Bandara IMIP Bikin Heboh, Milik Siapa Sebenarnya” Bandara yang berada di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah ini selama ini dikaitkan dengan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), salah satu pengelola kawasan industri nikel terbesar di Indonesia. Lalu, siapa sebenarnya pemilik Bandara IMIP? “Merujuk pada pemberitaan di berbagai media nasional, pengamat ITB Mohamad Abdul Kadir Martoprawiro memaparkan bahwa Bandara IMIP merupakan private airport atau bandara privat khusus yang dimiliki dan dioperasikan oleh PT IMIP. Bandara ini dibangun untuk keperluan logistik internal kawasan industri, mulai dari mobilisasi tenaga kerja, transportasi manajemen, hingga pengangkutan material industri.

♬ original sound - JALURINFO TV
@jalurinfotv

Polemik Bandara Morowali TNI Dikerahkan, IMIP Bantah ‘Tanpa Negara’ Markas Besar TNI mengerahkan Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat) untuk mengamankan bandara di Morowali, Sulawesi Tengah, setelah Menhan Sjafrie Sjamsoeddin menyoroti adanya bandara yang disebut tidak memiliki perangkat negara. TNI menegaskan dukungannya terhadap pemerintah untuk memastikan seluruh fasilitas strategis berada dalam kendali negara, serta meningkatkan koordinasi dengan Kemenhub, Kemhan, Polri, dan Pemda terkait perizinan, pengawasan, dan keamanan fasilitas udara. Sementara itu, PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menepis isu tersebut dengan menyatakan bahwa Bandara IMIP resmi terdaftar di Kemenhub dan diawasi Otoritas Bandara Wilayah V Makassar. IMIP menegaskan bahwa semua operasional bandara berjalan sesuai regulasi. Polemik ini mencuat setelah Menhan Sjafrie meninjau bandara di kawasan pertambangan Morowali dalam rangka Latihan Terintegrasi 2025. Ia menyebut keberadaan bandara tanpa kehadiran negara sebagai anomali yang berpotensi mengancam kedaulatan ekonomi, terlebih karena lokasinya dekat jalur laut strategis ALKI II dan III. Menhan menegaskan perlunya deregulasi dan penguatan pertahanan di titik-titik strategis, serta komitmen negara memberantas aktivitas ilegal yang merugikan kekayaan nasional. Ia menutup dengan menegaskan bahwa “Republik ini tidak boleh ada republik di dalam republik.”

♬ original sound - JALURINFO TV
@jalurinfotv

Rusia Tutup ‘Kuali Mirnograd’, Ribuan Tentara Ukraina Terjebak Situasi di front timur Ukraina kembali memanas setelah pasukan Rusia menutup rapat “Kuali Mirnograd” yang menjebak ribuan tentara Ukraina dan sejumlah tentara bayaran asing. Sumber-sumber Ukraina turut mengonfirmasi kondisi ini, menyebut lebih dari 2.000 personel kini terperangkap tanpa jalur keluar. Rusia dikabarkan telah meminta seluruh pasukan Ukraina yang terkepung untuk meletakkan senjata dan menyerah. Di sektor lain, kemajuan signifikan juga dilaporkan. Divisi ke-20 Rusia terus bergerak di sepanjang jalan raya utara Yablonovka menuju Berestka, lokasi pertahanan kuat Ukraina. Sementara itu, Brigade ke-4 dan Resimen ke-78 berhasil membebaskan Ivanopolye dan memperluas garis depan dari Aleksandro-Shultino-Ivanopolye hingga mendekati wilayah tenggara Konstantinovka, yang sebelumnya hanya dijangkau oleh unit sabotase Rusia. Pergerakan Rusia juga terlihat di arah Gulyaypole, dengan total wilayah 12,9 km² yang diklaim telah direbut dalam beberapa hari terakhir. Di tengah eskalasi pertempuran, muncul perkembangan terkait rencana damai yang diinisiasi Donald Trump. Moskow melalui Ushakov menegaskan beberapa poin penting: rencana perdamaian AS tidak dibahas di Abu Dhabi, belum didiskusikan dengan pihak mana pun, dan belum diterima secara resmi oleh Rusia. Moskow juga menilai pihak Eropa "terlalu mencampuri" proses perdamaian Ukraina, yang menurut Rusia justru menghambat solusi nyata.

♬ original sound - JALURINFO TV